Ranking Sekolah Berdasarkan Asesmen: Memacu Kompetisi Sehat atau Menciptakan Kasta Pendidikan?
1. Perspektif Kompetisi: Akuntabilitas dan Motivasi Peningkatan Mutu
Para pendukung pemeringkatan berpendapat bahwa kompetisi adalah katalisator kemajuan:
-
Transparansi Publik: Orang tua memiliki hak untuk mengetahui kualitas sekolah tempat mereka menitipkan anak, sehingga sekolah dituntut untuk lebih akuntabel.
-
Dasar Alokasi Sumber Daya: Pemerintah dapat menggunakan data asesmen untuk memberikan apresiasi bagi sekolah berprestasi dan bantuan khusus bagi sekolah yang tertinggal.
2. Perspektif Keadilan: Jebakan Stigmatisasi dan Kasta Pendidikan
Kritik terhadap pemeringkatan menekankan pada dampak psikososial dan struktural:
-
Stigmatisasi Sekolah: Sekolah dengan peringkat rendah sering kali dicap sebagai “sekolah buruk”, yang justru menurunkan motivasi guru dan siswa di dalamnya.
Peran PGRI: Mendorong Evaluasi yang Menghargai Proses
PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) memandang bahwa setiap sekolah memiliki konteks dan tantangan yang berbeda. PGRI mengambil langkah strategis sebagai berikut:
A. Advokasi “Rapor Pendidikan” sebagai Cermin Internal
PGRI mendorong agar hasil asesmen digunakan sebagai Rapor Pendidikan yang bersifat internal dan reflektif, bukan untuk diperbandingkan secara terbuka sebagai ranking nasional. Bagi PGRI, tujuan asesmen adalah perbaikan, bukan penghakiman.
B. Literasi Evaluasi melalui SLCC
Melalui Smart Learning and Character Center (SLCC), PGRI melatih guru dan kepala sekolah untuk membaca data asesmen secara bijak. Fokusnya adalah bagaimana meningkatkan literasi dan numerasi berdasarkan data tersebut, tanpa harus merasa terbebani oleh persaingan peringkat.
C. Mendorong Anggaran Berbasis Kebutuhan, Bukan Peringkat
PGRI mendesak pemerintah agar distribusi bantuan pendidikan justru lebih banyak diarahkan ke sekolah-sekolah yang nilai asesmennya rendah (afirmasi), bukan hanya memberikan insentif kepada sekolah yang sudah berada di papan atas.
Kesimpulan: Kolaborasi Lebih Utama daripada Kompetisi
Pendidikan bukanlah perlombaan lari, melainkan maraton panjang untuk mencerdaskan bangsa secara kolektif. Pemeringkatan sekolah hanya akan efektif jika ia mampu mendorong sekolah untuk saling membantu, bukan saling menjatuhkan dalam kasta-kasta yang diskriminatif.
“Setiap sekolah adalah ladang bagi tumbuhnya generasi masa depan. PGRI berkomitmen memastikan bahwa evaluasi pendidikan bertujuan untuk menyirami ladang yang kering, bukan hanya memuji ladang yang subur.”